mengapa milih iptp

Jujur dahulu saya buta tentang bangku perkuliahan. Saat  saya kecil pun saya tidak mengerti apakah perlunya sekolah, setahu saya sekolah adalah sebuah kewajiban bagi anak-anak kecil di luar kewajiban untuk bermain. Apalagi saya masuk TK ketika saya belum bisa bicara layaknya anak umur 4 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia saya mulai diberikan pengetahuan bahwa saya harus sekolah biar kelak jadi orang yang baik.

Setelah saya masuk SD, ketika saya ditanya cita-cita selalu bingung. Sejak dulu yang diajarkan tentang cita-cita adalah pengen jadi guru, polisi, astronot, dan dokter seputar itu-itu saja, sedangkan cita-cita sebagai petani jarang disinggung, bahkan hampir tidak penah untuk dijadikan contoh cita-cita. Sehingga pada saat kecil setahu saya kerjaan sebagai petani dan pedagang adalah apabila kita sudah tidak memiliki pilihan hidup dan itu adalah pekerjaan orang yang tidak memiliki keahlian khusus, semua orang pasti bisa melakukan hal tersebut.

Pada saat saya mulai menginjakkan kakinya di SMA dan saya mengetahui kakak saya diterima di IPB maka saya mulai tertarik untuk masuk ke IPB. Namun pada saat itu juga masih sering bimbang, masih sering ganti-ganti pendapat layaknya masih remaja labil. Ketika saya ditanya cita-cita, saya menjawab ingin masuk ke IPB jurusan Farmasi atau Kedoteran, tentu saja tidak ada. Sehingga saat ada tawaran ke PT dari Bimbingan Konselor masih tidak konsisiten. Apalagi dengan pendapat ibu saya yang menginginkan saya masuk ke bidang kesehatan dan ayah saya menganjurkan saya untuk masuk ke bidang perekonomian. Kakak saya awalnya pengen saya dikedokteran, namun seiring dengan saya sering konsultasi justeru ya terserah ajalah yang penting kamu suka.

Hingga pada suatu saat ada promosi IPB dari alumni-alumni SMA saya yang sudah di IPB, pada hari itu juga saya mulai teringat kembali keinginan saya masuk IPB dan dengan promosi tersebut saya sangat tertarik tentunya. Saya tertarik masuk IPB, tapi jurusan-jurusan yang ada membuat saya bingung. Akhirnya saya minta pertimbangan dari orang tua dan kakak-kakak saya, tentu saya banyak konsultasi kepada kakak saya yang di IPB. Saya justeru semakin bingung dengan jurusan-jurusan yang ada di IPB menurut saya nama-nama yang ada tidak biasa dibandingkan dengan PT yang lain, nama itu sangat intelek dan antik, mungkin itu hanya untuk orang-orang yang berkacamata tebal dan orang yang suka nongkrong dilaboratorium yang suka berteman dengan mikroskop-mikroskop, reaksi yang membingungkan dan teman-temannya, tak ketinggalan juga suka menghuni perpustakaan dan tak banyak bicara. Dari konsultasi tersebut maka sebagai orang yang suka menclok sana menclok sini saya mengurungkan niatnya untuk masuk ke IPB, selama beberapa hari tidak mengingat dan tidak ingin lagi ke IPB. Namun saya selalu berdoa untuk mendapat petunjuk yang terbaik dari Alloh SWT jalan mana yang akan saya tempuh, sehingga saya tak lupa saya juga meminta pertimbangan dari Alloh ketika saya sholat. Pada suatu saat H-1 pengumpulan berkas untuk daftar ke ipb ketika saya bangun tidur dari sholat istikharoh saya sholat subuh saya entah ada angin dari mana datangnya saya teringat IPB kembali dan saya ingin mencoba daftar di situlah ada keyakinan untuk masuk ke IPB.

Hari pengumpulan berkas telah berlalu, doa selalu dipanjatkan doa saya setiap sholat “yaa Alloh saya sudah memutuskan untuk masuk ke IPB mudah-mudahan saya diterima di jurusan apa saja, saya mengetahui Alloh lebih tahu segalanya mana yang terbaik buat hamba”. Akhir-akhir kelas XII SMA saya sering ke perpustakaan mengikuti bedah buku dan di situ saya mendapat suatu pelajaran untu bersyukur atas apa yang diberikan Alloh kepada kita. Yang mengajarkan tentang nilai moral tersebut bernama Pak Gunawan beliau adalah kepala perpustakaan di sekolah SMA saya sekolah, intinya apa yang kita dapat adalah yang terbaik buat kita belum tentu apa yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan dan itu benar-benar sering terjadi pada diri saya.

Akhir pengumuman penerimaan mahasiswa IPB melalui jalur USMI dari sekolah kami tiba, saat itu kita sedang tryout untuk persiapan menghadapi UAN dan saya diterima di Fakultas Peternakan dan di situ sudah tercantum dengan NIM  suatu hal yang membuat saya sangat senang, saya berpikir dengan NIM saya sudah menjadi bagian dari keluarga IPB. Setelah saya di IPB saat menjadi mahasiswa TPB saya banyak pengarahan tentang Departemen yang ada di Fapet yaitu IPTP san INTP, saat saya mengikuti mahasiswa cinta kampuslah saya berkeinginan ingin masuk ke departemen IPTP dengan pengarahan gambaran besar mengenai apa saja seperti mata kuliah susu, daging, telur, unggas, dll, saya tidak percaya dan ternyata emang ternyata.

Setelah saya renungi, saya resapi, dan saya ingat-ingat kembali  ternyata itu berkaitan dengan kebiasaan saya sewaktu kecil suka beternak ayam. Yang sebenarnya saya juga tidak suka awalnya karena itu sangat menganggu kegiatan bermain saya, tetapi orang tua selalu membelikanku ayam, mau tidak mau harus mau, hal itu berakhir ketika saya masuk SMP dan dari situ saya bangga bisa memiliki uang dari aym-ayam ku, yang tidak dimiliki oleh teman ku yang lain.

The IPB is honored to be among the three recipients of the Haas award for International Peace and Social Justice for its role in helping to mobilize public opinion to support the World Court case on the illegality of the use and threat of use of nuclear weapons.

Posted in Uncategorized | Leave a comment